Sore itu sebenarnya cerah tapi entah kenapa aku ingin sekali kesini, tempat
kita dulu suka duduk2 sehabis latihan fotografi. Di bawah angka 1 net basket
itu. Aku ingin... benar2 ingin kesini, untuk melihat kamu walau hanya bayang
samarmu. Heran, setelah adzan isya’ tiba2 udara berubah. Gerimis kembali turun,
tak lama hujan kian melebat. Bandung saat ini memang sedang musim hujan.
“Pantesan tadi panas banget” kata seorang laki2 kurus pada temanya. Mungkin
mereka anak2 akuntansi semester I. Arah datangnya tepat dari kelas pengajar
akuntansi dan ku dengar beberapa bercerita tentang balance sheet. “Panas? Ah
cerah kok siang tadi” pikirku. Mungkin mereka saja yang kepanasan otaknya
memikirkan angka2 debit dan kredit.
Hujan ini ternyata membantuku melihat bayangmu. Disini di bawah angka 1, dulu
kau pernah memberikan kehangatan padaku. Ya... persis di saat hujan2 begini.
Saat itu kita sudah pacaran 8bulan, sejauh itu kau baru bisa pegang tanganku.
Untuk mengelus pipi atau bahkan mencium kening saja kau belum pernah
melakukannya. Kontras dengan pembawaanmu yang terkesan brandal.
Suatu sore, hari selasa juga seperti ini atau tepatnya malam, kita pulang
latihan dan selalu sengaja memutar, melewati laboratorium biologi dan ruang
seni. “Biar lebih lama bisa pegang tanganmu, Lin!!” katamu dengan wajah yang
tak berani menatap mataku, aku tahu kamu pemalu. Karenanya aku tertawa,
ternyata kamu berani juga, aku setuju saja. Kita selalu saja diam2 menyelinap
pulang. Hanya Fauzi, Yanti, dan Tofa yang tahu kita pacaran. Yanti dan Tofa
malah tahu sejak pertama kali aku kenal kamu.
He... he... lucu juga ya... mengingatnya!! Aku ingat, saat itu aku disuruh
dosen fisikaku mengambil laptop beliau yang sengaja di tinggal di perpustakaan.
Aku menelfon Yanti yang memang saat itu berapa di kelas sebab aku bingung
laptop mana yang di maksud pak dosen. Kamu bilang “Tuh toshiba silver”, sambil
nyengir “sok tahu” ucapku. Malah tiba2 kamu marah sambil membentakku “Ini
perpustakaan, yang sopan dong. Cari laptopnya pak Muchtar-kan!! tuh yang
toshiba silver meja nomer 7” katamu sambil menunjuk. Nggak tahu kenapa aku
nurut aja terus langsung ngacir keluar ruangan. Tak lama kamu teriak kecil ke
aku “Eh,, sory” sambil tertawa simpel. Astaga taring kananmu gingsul.
Setelah itu aku sering ketemu kamu dan sejak saat itu pula aku menyebutmu Goku,
itu karena hobimu pakai pernak-pernik Dragon Ball. Habis namamu susah sich. Eh,
sekarang aku ingat, Sancyaiki Sancay-Sancay, katamu gokil. Aku terkukuh,
memangnya ini Meteor Garden. Aku bilang sama Yanti cuma naksir sama pribadi
kamu, kalau dari fisik sih jelas banyak temen2 lain yang lebih ganteng. Tapi
kamu punya sesuatu yang lain, di balik kesan kamu yang gila dan juga nge-rock.
Aku tahu, hati kamu justru lebih halus dari Pram yang menjadi idola mahasiswi2.
Dan aku juga pernah bilang sama Yanti paling cuma sebulan naksir kamu. Setelah
6bulan ternyata aku masih naksir kamu. Yanti ngetawain aku “Rasain” gitu dia
bilang. Aku sudah bilang bingung, tadinya aku nggak mau pacaran sama kamu, abis
banyak juga yang ngejar2 aku gitu dech, hehe. Tapi nggak tahu kenapa, tahunya
juga mentog sama kamu. Sebab aku pikir, Ge-er aja terhadap sikapmu yang (kok
aneh...). Buat seseorang yang pemalu kayak kamu, aku menilai itu sesuatu hal
yang berani. Biasanya kamu selalu bikin puisi2 manis seperti yang aku minta.
Tapi saat itu, di dalam mobil jep merahmu, kamu ngomongin gitu dech... malu ih
ngingetnya!!!
Meski emang tidak seperti yang orang banyak lakuin, aku tahu kalau maksud kamu
adalah menjalin hubungan yang lebih. Kamu tidak berkata “Maukah kau menjadi
pacarku?” tapi dengan caramu, dengan hatimu. Pacaran kita memang umumnya adalah
hunting foto. Disitulah aku kenal kamu lebih akrap, maklum kita memang beda
jurusan. Aku ambil Komunikasi dan kamu ambil Jurnalis. Kita selalu bersama,
melihat berbagai objek menarik untuk di jepret atau kamu memberikan jaket
lusuhmu untuk menutupi kamera dan badanku dari hujan. Sampai suatu saat ketua
jurusanku tiba2 berada di depan kita “Linda, kenapa kamu biarin temen kamu
basah?, kamukan pakai 2 jaket” tanya ketua jurusanku. Lantas kamu jawab dengan
seenaknya “Nggak papa kok pak, saya lagi cari inspirasi, lagian gerah”. Aku
tersenyum sekaligus terheran-heran. Masa’ Bandung lagi hujan dan dingin gini
dibilang gerah, gokil kamu...
.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.
Hujan kian deras, San! San, ingget nggak senin dulu itu? Kita lari2 sambil
nenteng kamera dari samping ruangA- nya anak accounting, terus numpang berteduh
di warung Yakiimo (kafe ubi jalar bakar) yang tadi kita ambil gambarnya.
Kita sedikit basah, karena angin menyebabkan air hujan tiris. Tiba2 kamu
selipkan tasmu di antara badan kita. Lalu kamu raih aku dengan lembut, ketika
kamu lihat aku terkantuk-kantuk bersandar kedinginan.
“Ngantuk, Lin..??”
Sial, udah tahu gitu kok ya... nanya, aku pindahkan tasmu
dibawah kaki. Aku sandarkan kepalaku di pundakmu, tanpa penghalang lagi.
Pertama setelah 8bulan pacaran! Ah!! Aku menikmatinya. Meskipun aku ragu dengan
kamu. Sekilas aku lihat wajahmu kikuk dan degup jantungmu keras memacu. Kamu
salah tingkah, tapi aku menikmatinya. Aku nyaman berada di samping kamu yang
begitu terjaga. Aku yakin bersamamu aku aman. Kemudian aku tertidur sejenak
dalam sandaranmu. Terbangun ketika tiba2 aku merasakan hembusan hangat berada
di depan mataku. Aku memandangmu.
Kau terpaku, kelopak matamu sayu syahdu, kau bilang
“Tidur ya...?” aku hanya mengangguk. Berharap kamu meneruskan apa yang tadi
kamu mau. Jantungku mulai berdetak keras berharap sesuatu yang lembut dan
indah mengisi hari ini. Kamu diam lama, lalu mengibahkan rambutku yang basah.
Bibirmu meluncur tepat di keningku.
Gila, aku hampir kehilangan keseimbangan saking
terkejutnya San! Kamu yang begitu pemalu pada perempuan ternyata kamu
memperlakukan aku dengan hormat berbeda dengan pacar2ku dulu. Di saat seperti
ini mungkin mereka bisa berlaku lebih dari apa yang kamu buat. Kamu malah
menyia-nyiakan kesempatan itu. Mungkin itulah cara kamu mengungkapkan rasa
padaku. Tidak mengedepankan nafsu, tapi sungguh itu adalah kelembutan yang luar
biasa menurutku.
Kemudian kita berdiam diri denagn tetap pundakmu ku
jadikan sandaran. Hujan reda dan kita saling berbimbing berlari-lari kecil
menuju jalanan Cimandiri. Dalam angkot kosong kamu berkata “Ma’afkan aku
Lin...”
Aku heran, dan kau jawab keherananku “Aku tadi terbawa
suasana, bukan maksudku menggunakan kesepatan Lin. Tadi aku benar2 ingin
melakukannya pada orang pertama yang benar2 aku sayangi. Kamu tahu sendirikan
biasanya aku seperti apa!!”
Aku tersenyum dan mengeratkan genggamanku. Kemudian kau
menarik tanganku ke depan dadamu lantas sesaat mencium lembut jemariku. Rasa
aneh dan nikmat lagi2 menyerang ulu hatiku. Ah...!!!
Sebuah mobil tiba2 lewat di depanku, kencang aku
terkejut. Kesal karena bayangmu segera lenyap. Namun, himpunan bayanganmu
datang lagi ketika aku menatap ke depan. Di situ, dulu ada lapangan bola, entah
sekarang kok nggak ada lagi.
Dulu aku sering menunggumu, kalau anak2 pecinta alam lagi
main bola. Ya... disini ini. Melihat kamu teriak2 berlari kencang dan ketawa2.
Sedang aku makan kwaci sambil tersenyum sendirian sampai bibirku jontor. Biasa
gara2 garam kwaci. Gimana nggak jontor lihat kamu mainnya bercanda terus di
lapangan, wih...!!! terus agak tersembunyi disana ada ruangan himpunan
mahasiswa jurusan teknik yang dulu markasnya mahasiswa2i slankers Bandung. Aku
inget ketika kau, entah dalam rangka apa diklat pecinta alam. Kau lari, bilang
mau ke WC, tapi malah ke telpon umum di pojok tembok itu. Kau bilang, ada 20an
uang receh, jadi bisa ngobrol lebih dari ½ jam. Bayangin, ini sudah hampir jam11 malam, bukan malam minggu lagi tapi
malam jum’at. Untung saja Ibu dan Ayah lagi ke solo. Kalau nggak bisa2... pasti
aku di tanyain aneh.
Kamu lalu laporan “Banyak nyamuk Lin, genit2 kayak kamu”.
Sial, aku di samain sama nyamuk, aku nanya “Gatel nggak?” jawaban kau pasti
jayus abis “Nggak cuma sedikit pedes kok”.
Beberapa hari kemudian, kamu cerita lagi. Katamu sehabis
nelfon aku, kamu di kasih norit dan pil kina banyak banget sama ketua diklatmu.
Hahaha... Rasain!!! Waktu di tanya ke WC lama bener, kamu jawab sakit perut.
Ketua diklatmu memang baik, abis besar tanggung jawab ke dekan dan rektornya.
Tapi kasian juga pas denger kamu mabok gara2 kelebihan dosis.
`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`
Wah!! Banyak kenangan kita ya San! Tapi yang paling aku
inget adalah ketika kita dulu tahu2 ketemu dipameran buku. Begitu ketemu, aku
langsung marah. Sebab sebelumnya kamu batalin janji karna ada perlu, tapi
nyatanya kamu malah ada di pameran buku. Bertiga dengan teman2 barumu yang
berjenggot dan aktif di DAI masjid University. Tiga bulan sebelumnya, sikap
kamu menjadi aneh, kamu seperti orang asing di depanku, bahkan kamu seakan-akan
berusaha menjauh. Meski aku yakin sebenarnya bukan itu yang kamu mau.
Ah... jengkel. Kamu bilang “Ma’af Lin, tadi aku ada
pengajian dulu, kebetulan emang deket pameran buku tempatnya”. Aku kesel tapi
nggak protes sebab alasan dia pengajian. Biar gini2 aku masih menghormati orang
untuk belajar agama. Kebetulan ayahku memang muslim yang ta’at. Tiap beberapa
bulan beliau masih menyempatkan pergi keluar kota untuk sekedar khuruj atau
menghadiri pengajian2 terdekat.
Tapi perubahanmu membuatku tidak mengerti, penampilanmu
yang nge-rock sekarang berubah menjadi lebih rapih. Sikapmu yang cuek tapi
pemalu malah semakin pemalu dan tertutup terlebih kepada teman2 perempuanmu.
Yanti malah pernah bilang kalau kamu malah hanya tersenyum saja bila di sapa, lantas
pergi tanpa berkomentar apa2. Begitu juga denganku, telfon2 jenaka dan hangatmu
mulai jarang aku dengar. Biasanya kamu nongkrong di tempat jualan gorengan
bareng temen2 pecinta alammu. Sekarang mereka bilang, juga tidak tahu
keberadaanmu. Padahal aku berharap masih bisa berjalan mencari objek2 menarik
buat kita di ambil gambarnya.
Bayang2mu lenyap lagi sejenak. Saat aku sadar hujan telah
habis, kulangkahkan kakiku meninggalkan angka 1 seraya berbisik “Ku tinggalkan
sepotong cinta kita disini, San...!!!
Lalu ingatanku melayang pada beberapa hari berselang, kau
yang tadinya menjauh tiba2 menghubungiku. Lantas mengajakku untuk mau menerima
khitbahmu. Itu yang kau bilang tentang melamar dalam bahasa barumu. Aku
terhenyak, GILA... pikirku, baru 11 bulan pacaran kau bilang kau serius.
“Sebab islam mengatur demikian, kamu tidak ingin aku
terjebak dosa yang disebabkan rasa sayangku padamu-kan Lin. Ini yang
sesungguhnya aku mau yang sesuai aturan-Nya” pinta kamu. Aku tahu kamu takut
kehilangan aku. Aku terpaku dan tak terasa butiran air mataku jatuh membasahi
pipi.
“Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita San... Asal
kamu kembali menjadi San-ku yang dulu”.
“Ada, ada yang bisa memisahkan kita” jawabmu.
“Ada Lin! Maut dan keimanan kita!!!” Dadaku berdegup
kencang.
“Ya... maut” sahutku berbisik “Tapi bukankah keimanan
kita sama San??? Aku muslim, kamupun muslim”.
“Ya... benar, tapi muslim yang seperti apa?” tanyamu.
Lalu kau berikan buku berwarna putih dengan tulisan merah
menyala bertuliskan “Sistem Pergaulan Pria, Wanita dalam Islam”. Aku menatap
dalam buku tersebut, biasanya aku kesal ketika kau sudah berbicara tentang
pergaulan pria, wanita dalam islam. Tapi saat itu nilai buku ini rasanya sakral
sekali. Dalam hati aku berjanji akan membaca buku itu dan mengikuti saranmu
untuk mendiskusikannya dengan Mbak Novi kakak angkatmu yang juga aktif di DAI
masjid University, seperti kau saat ini.
Tanpa membiarkan aku berbicara lagi, kamu hanya berkata
“Tolong pikirkan lamaranku Lin...” kamu lantas pergi menuju serombongan
teman2mu yang membawa bendera hitam putih bertuliskan “Syahadat” di tengah
hujan rintik2. Esoknya tak sengaja kita berjalan bersama, lalu kita berpisah di
unit 5 gedung fakultasku. Sebelum meninggalkanku kau sempat berkata “Hari ahad
aku pergi ke Aceh untuk menjadi relawan di sana bersama teman2. Mungkin sekitar
2 mingguan aku di sana. Afwan kalau kemarin aku terlalu memaksa, aku tunggu
jawabanmu sepulangnya dari sana”.
Aku mengangguk, tak terasa aku menggenggam keras buku
pemberianmu. Kembali air mataku menetes, aku ingin mengucapkan satu atau dua
patah kata sebelum kau pergi. Tapi kau mungkin tidak mau kalau aku berkata
berduaan. Yanti tahu2 sudah menggamit lenganku sementara aku masih menatap
punggungmu yang kian menjauh dariku.
`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.``.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.
Rupanya angkot malam ini sudah habis, kelas fotografi
memang menghabiskan waktu. Teknik ruang gelap butuh waktu yang banyak,
kuhentikan sebuah taxi supirnya memandangku heran. Biarlah!!! Terserah apa yang
mau di pandangnya melihat seorang cewex sendirian di malam hari. Dulu di kelas
ini hari pertamaku menggunakan kerudung meski belum seperti apa yang kau
berikan padaku, tapi sekarang aku banyak berubah karnamu.
Ah... San... kau harus tahu, bisikku, air mataku menetes
lagi2 menetes. Sekali lagi ku genggam buku putih pemberian terakhirmu. Kuraih
sebuah koran lusuh dari dalam tasku. Berita tentang meninggalnya 2 orang
relawan Aceh akibat terjatuh ke jurang ketika sedang membawa obat2an. Salah
seorang dari ke2 orang itu adalah kamu, Sancyaki kekasihku. Di sudut hatiku, ku
lihat kau lengkap dengan senyum gingsulmu.
`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`.`
Satu yang
biasa mudah di lupakan... Satu yang berbeda akan terkenangkan...






0 komentar:
Posting Komentar