RSS

Teater

Kisah Wulan & Suling Ajaib
            Kisah ini hanya karangan semata, jika terdapat kesamaan karakter atau apapun itu hanya sebuah ketidak sengajaan belaka. Di ilhami dari kisah Asal Mula Laut Asin.
                           
Narator            :
Pemeran          : 1. Wulan                               ( W )
                            2. Ibu Tiri                             ( I T )
                           3. Saudara Tiri 1                  ( S D 1 )
                          4. Saudara Tiri 2                  ( S D 2 )
                          5. Arya                                   ( A )
                          6. Pak Karta                          ( P K )
                          7. Kakek Tua                          ( K )
                          8. Pak Dewo                          ( P D )
                          9. Suling Ajaib                      ( S )

            Di sebuah desa di adakanlah lomba fashion untuk memperingati hari Kartini. Pada akhir lomba di umumkan pemenangnya. Dan taukah kalian pemenangnya adalah “Wulan” gadis desa cantik yatim piatu yang kini tinggal bersama Ibu tiri dan kedua saudara tirinya.
Wulan              : (senyum-senyum) “Trimaksih semuanya trimakasih”.
            Dan berakhirlah lomba tersebut dengan keirian dua saudara tiri wulan yang tidak trima atas kekalahannya.
Wulan              : “Ibuuuuu, aku menang ibu, aku menang” (sambil menenteng piala)
Ibu Tiri            : “Aahhh, tak usah kamu sombong” (mendorong wulan)
Saudara Tiri 1  : “Kamu itu nggak pantes jadi pemenang”
Saudara Tiri 2  : “Iya tuh, sapa suruh kamu ikut lomba fashion”
W                    : (Sedih) “Aku kan juga pengen ikut kakkk”
I T                   : “Sudah, kita tinggalkan saja gadis bodoh ini”
            Begitulah nasip wulan di rumahnya sendiri. Ia di perlakukan kasar terhadap Ibu dan saudara tirinya.
I T                   : “Wulaaaannnn......” (teriak)
W                    : “Iya bu, iyaaa” (berlari)
I T                   : “Kakak pertamamu sekarang tidak enak badan. Dia minta di belikan pisang dan roti cap ENAK di pasar sebrang sana. Cepat belikan dan ingat jangan lama-lama kamu ya...”
W                    : “Baik bu..”
            Wulanpun berangkat ke pasar sebrang yang letaknya jauh dari rumah. Di tengah perjalanan pulang wulan bertemu dengan seorang kakek tua pengemis.
Kakek  Tua      : “Gadis cantik bolehkah kakek minta sedikit roti dan pisangmu. Kakek kelaparan”
W                    : “Tentu saja kek, ambil pisang dan roti ini, tapi separuh saja”
K                     : “Trimakasih gadis cantik (sambil batuk-batuk). Bolehkah aku minta tolong lagi?”
W                    : “Ouh, boleh kek. Apa yang bisa saya bantu?”
K                     : “Antarkan apel ini di sebuah rumah yang dekat dengan hutan di sebelah sana (sambil menunjuk). Berikan apel ini kepada Pak karta.”
W                    : “Haaa, apel ini besar sekali. Siapa itu Pak karta kek?”
K                     : “Pak Karta itu kakek tua cebol. Jika kamu mau menolongku kamu akan bertemu dengannya.”
W                    : “Emmmhhhh” (menggangguk)
K                     : “Ingat, antarkan apel itu padanya. Dan jangan kamu berikan apel ini secara cuma- cuma padanya.”
W                    : “Maksud kakek?”
K                     : “Tukarkan apel itu pada sebuah suling yang dia punya. Kamu mengertikan?”
W                    : “Baik kek, saya mengerti” (berjalan pergi)
K                     : “Tunggu (memegang bahu wulan). Ingat- ingat pesanku tadi, dan hati- hatilah kamu di jalan”
            Wulan pun pergi masuk hutan dan mencari rumah Pak Karta. Tak lama kemudian ia menemukan sebuah rumah yang begitu gelap dan bertemulah ia dengan seorang lelaki cebol.
Pak Karta        : “Heiihhh, siapa kamu? Beraninya masuk rumahku tanpa permisi”
W                    : “Maafkan aku, aku hanya mencari Pak Karta”
P K                  : “Untuk apa kamu mencariku?”
W                    : “Aku hanya ingin memberikan apel besar ini padamu”
P K                  : “Apel? Mana apelnya?”
W                    : “Aku akan memberikan apel ini, jika kamu memberiku sebuah suling”
P K                  : “Suling?”
W                    : “Iya..”
P K                  : (Berfikir 1- 3 menit) “Baiklah akan ku berikan suling ini padamu” (memberikan suling)
W                    : “Ini apelnya” (memberikan apel)
P K                  : “Trimakasih gadis cantik”
            Kemudian pulanglah wulan dengan membawa sebuah suling. yang di dapatnya dari pak karta tadi.
I T                   : “Mana apel dan rotinya? Kenapa Cuma separoh? Malah kau bawa pulang suling butut ini” (merebut dan melembar suling itu ke lantai)
W                    : “Maaf bu, maafkan aku. Tadi ada seorang kakek tua yang memintanya, kasihan dia kelaparan bu..”
I T                   : “Ahh, dasar kamu cari alasan saja” (menjambak dan menganiaya wulan)
W                    : “Ampun bu, ampun”
            Tanpa menghiraukan. Ibu tirinya meninggalkan wulan yang menangis
W                    : (Meratapi nasib sambil memungut suling) “Tuhan kenapa hidupku jadi begini (menyanyikan lagu). Ibu tiri hanya cintaaa kepada hartaku sajaa”
Suling Ajaib    : “Jangan bersedih wulan”
W                    : (kaget sambil mengusap air mata) “Siapa yang berbicara?”
S                      : “Aku wulan, aku di sampingmu”
W                    : “Hahh, apa kamu yang berbicara wahai suling?”
S                      : “Iya wulan, aku bukan sembarang suling. Aku suling ajaib, sudah jangan bersedih, aku akan menghiburmu” (menyanyikan lagu anak gembala voc tasya)
W                    : “Sudah suling, sudah jangan menyanyi lagi. Suaramu membuatku terpingkal- pingkal”
S                      : “Kamu tidak sedih lagi kan wulan?”
W                    : “Hehe, tidak”
S                      : “Aku akan selalu menghiburmu wulan. Aku bisa mengabulkan keinginanmu, bila kamu meniup dan menyebutkan keinginanmu. Maka aku akan mengabulkannya”
W                    : “Ahh, yang bener saja. Kamu pasti bercanda”
B                     : “Tidak wulan, coba saja”
W                    : “Baiklah, aku akan mencobanya (meniup suling) aku pengen makan buah durian”
B                     : “Ahhh, kamu. Permintaanmu itu tidak masuk akal wulan. Sekarang bukan musimnya buah durian tapi buah salak. Jadi ku beri kamu buah salak saja ya. Hehe..”
W                    : “Huuhhh” (dengan muka cemberut)
            Sekarang wulan tidak bersedih lagi, karna dia punya suling ajaib yang selalu menghibur dan bisa membantu pekerjaannya. Suatu hari wulan di perintah saudara tirinya.
S D 2               : “Wulan, wulannnnn” (geram, karna wulan tak juga muncul)
S D 1               : “Wulaaaaaannnnnn” (teriak keras sekali)
W                    : (berlari) “Iya kakak pertama, ada apa memanggilku keras- keras?”
S D 2               : “Kamu itu budeg ya (menjambak wulan) dari tadi di panggil nggak nongol- nongol. Kupingmu kuwi neng ngendi?”
W                    : (menangis) “Hik,hik..”
S D 1               : “Dasar tidak berguna (mendorong wulan). Jangan nangis, sapa suruh kamu nangis. Dasar cengeng”
W                    : “Ampun kak, ampun..”
S D 2               : “Dari pada kamu nangis, mending cuci nih baju” (melempar baju)
SD 1                : “Bajuku juga” (melempar baju ke muka wulan). Nyucinya yang bersih, setrika sampai licin dan wangi”
S D 2               : “Dan tidak boleh ada yang rusak sedikitpun. Ini baju mahal, belinya di itali. Tau nggak sich loe..”
S D 1               : “Bodoh kamu, mana dia tahu soal itali. Dia kan KAM SE U PAY”
S D 1 & 2        : (tertawa bersama) “Hahaha”
S D 1               : “Sudah cepat cuci sana”
S D 2               : “Cepat, cepat”
W                    : “Baik kakak pertama, baik kakak kedua”
            Wulanpun sedih dan menderita di perlakukan seperti ini oleh saudara- saudara tirinya.
S                      : “Jangan bersedih wulan, aku kan membantu pekerjaanmu”
W                    : “Aku hanya heran, mengapa mereka memperlakukan aku seperti ini”
S                      : “Apa yang harus aku lakukan?”
W                    : “Tolong jadikan baju- baju ini bersih, wangi dan licin”
S                      : “Itu pekerjaan yang mudah (cling, cling, cling). Selesai kan wulan”
W                    : “Hebat kamu, trimaksih kawan, kamu memang baik padaku”
            Dan selesailah tugas wulan mencuci dan menyetrika dengan bantuan si suling ajaib.
W                    : “Sudah kak, ini baju- bajunya sudah bersih dan wangi”
M                     : “Coba aku lihat (mencium baju). Kenapa bisa seharum ini?”
S D 1               : (heran) “Kamu kasih apa?”
S D 2               : “Ini baju kamu loundry ya? ”
W                    : “Enggak kak, kan aku nyucinya pakek molto ultra”
M, S D 1 & 2  : (bersama- sama) “Ouh, molto ultra rahasianya”
            Pada suatu hari datanglah Arya anak pak lurah yang tampan nan rupawan. Dia datang ingin menemui wulan.
Arya                : “Permisi.. Kedatanganku kemari mencari seorang gadis yang bernama wulan. Adakah dia di rumah ini?”
S D 1 & 2        : (berbisik- bisik)
S D 1               : “Wulannya lagi ke pasar tuh” (berlagak jutek)
S D 2               : “Iya, ngapain sich cari wulan. Sama kita aja, kita lebih cantik dari pada wulan”
A                     : “Idih P-de amet kalian, aku hanya mencintai wulan”
S D 1               : (merebut tangan Arya dan menyalaminya) “Kenalkan namaku JESSICA ISKANDAR”
S D 2               : (merebut tangan Arya dari S D 1) “Aku NIKITA WILLY”          
A                     : “Achh, apa- apa’an sich kalian. Aku kesini cuma cari wulan, kalau wulannya tak ada lebih baik aku pulang”
S D 2               : “Kenapa buru- buru mau kemana ganteng”
S D 1               : (menarik Arya) “Ayo duduk dulu”
A                     : (risih dan kemudian membentak) “Hiihhh, cepat lepaskan tanganku”
SD 1                : (melepas tangan Arya)
            Arya pun pergi meninggalkan saudara tiri wulan yang genit- genit itu
SD 1                : (marah) “Sialan si wulan itu”
            Karna merasa cemburu Arya mencintai wulan. Saudara tiri wulan pun menyusun suatu rencana untuk mencarikan menikahkan wulan.
S D 1               : “Buuu, carikan wulan suami saja biar Arya nggak cari- cari wulan lagi. Aku kan cemburu bu..”
S D 2               : “Iya tuh bu”
I T                   : “Aduh kalian, ibu sudah merencanakan semua itu”
S D 2               : “Apa bu, apa??”
I T                   : “Kita nikahkan saja wulan dengan pak dewo, dengan begitu kita juga bisa merasakan harta duda itu. Betulkan rencana ibu?”
S D 1               : “Pak dewo yang duda itu bu?”
M                     : “Yups, betul sekali”
S D 2               : “Setuju sekali bu”
S D 1               : “Oc, kalau begitu cepat kita laksanakan”
            Dan pergilah Ibu tiri wulan menemui Pak dewo dengan maksud menawarkan anaknya pada dudo tua itu.
Pak Dewo       : “Hahahaha, betul sekali kamu Asih. Dengan menikah hidupku jadi ada yang mengurus dan akan lebih bahagia lagi”
M                     : “Akan lebih bahagia lagi kalu kita jadi keluarga”
P D                  : (heran dan mengeryitkan mata) “Maksud loehh???”
M                     : “Saya punya anak prawan cantik, namanya wulan. Bagaimana jika... (pembicaraan langsung di putus pak dewo)”
P D                  : “Hahahaha, sudah aku tidak akan lagi berfikir panjang. Kapan kau kenalkan anakmu denganku?”
M                     : “Mungkin tak perlu banyak perkenalan, anda pasti akan langsung jatuh cinta pada anak saya yang satu ini. Dan dia tidak akan menolak saya nikahkan dengan anda”
P D                  : “Baiklah esok aku akan datang kerumahmu. Akan ku lamar dan langsung ku nikahi anakmu itu. Akan aku bawakan mas kawin paling mahal untuknya”
            Wulan pun hanya bisa menerima nasib di nikahkan dengan Pak dewo tapi tidak dengan Arya yang benar- benar mencintai wulan.
A                     : “Tungguuu, pernikahan ini tidak sah. Wulan tidak mencintai lelaki ini (menunjuk Pak dewo)”
P D                  : “Siapa kamu anak muda, beraninya mengganggu acara pernikahanku. Akad nikah sudah berlangsung dan sekarang wulan adalah istriku yang sah”
A                     : “Tidaakkk, ini tidak mungkin terjadi (memandang wulan). Wulaannn...”
W                    : (menangis) “Maafkan aku Arya”
P D                  : “Sudah wulan, jangan kau hiraukan dia. Sekarang kamu istriku yang sah”
            Pada malam harinya Arya mengendap- ngendap menemui wulan dan ingin membawanya pergi. Wulan setuju saja, dengan bantuan suling ajaib wulanpun merubah wajah cantiknya menjadi nenek- nenek tua untuk menemani pak dewo malam ini.
P D                  : (kaget karna melihat wajah wulan berubah menjadi nenek tua) “Haaa....”
W                    : (menggoda pak dewo) “Kemarilah suamiku”
P D                  : “Tidak, kamu terlalu buruk untuk menjadi istriku. Pergi sana aku tidak membutuhkan istri sepertimu. Dasat nenek tua bangkotan”
W                    : (masih menggoda) “Suamiku..”
P D                  : “Pergi, pergiii”
            Dan rencana wulanpun berhasil, pergilah ia bersama Arya yang kini menjadi kekasihnya.
P D                  : “Kurang ajar kamu Asih, beraninya menipuku. Setan alas”
            Setelah kejadian itu, wulanpun tinggal kembali bersama Ibu tiri dan 2 saudara tirinya. Suatu hariii...
I T                   : “Wulan, kita lagi pengen makan enak. Kamu masakin ayam goreng lezat untukku”
S D 1               : “Aku pengen kamu masak sate kambing”
S D 2               : “Dan aku pengen kamu masak ayam panggang”
I T                   : “harus enak, tahu kamu..”
W                    : “Iya bu..”
            Karna wulan tidak begitu bisa memasak, diapun meminta bnatuan pada suling ajaib.
W                    : “Suling yang baik, bantu aku ya (meniup suling). Tolong hidangkan ayam goreng lezat, sate kambing dan ayam panggang ya..”
S                      : (menghidangkan makanan) “Cling, cling, cling”
            Dan tanpa sepengetahuan wulan. Ternyata saudara tirinya tengah mengintip apa yang di lakukan wulan.
S D 1               : “Ouh, jadi ini (merebut suling)”
W                    : (memegangi suling erat- erat) “Jangan kak, jangan ambil suling itu”
S D 2               : (merebut sulign dan mendorong wulan) “Hiihhh”
S D 1               : “Hahahaha, sekarang suling ini milik kita”
            Sekarang suling ajaib itu berada di tangan saudara tiri wulan. Mereka menggunakan suling itu dengan tidak sebaik- baiknya.
I T                   : “Coba mama minta uang yang banyak pada suling ini (meniup suling). Berikan aku uang yang banyak”
S                      : (mengabulkan permintaa)
S D 2               : “Wahh, suling ini benar- banar canggih”
S D 1               : “Kalau begitu kita minta mobil mewah yang ada AC-nya dan pergi belanja dech”
S D 2               : “Iya bu, iya..”
S D 1               : (merebut suling dari tangan ibunya dan meniup suling) “Suling, aku minta mobil yang adem ada AC-nya sekalian sopirnya”
S                      : (mengeluarkan becak dan sopirnya)
S D 1               : “Dasar suling butut, ini sich namanya becak”
S D 2               : “Aduuhhh, ini sich AG bukan AC”
I T & S D 1     : “AG tuh apa?”
S D 2               : “Angin gede”
I T                   : “Ya sudahlah, dari pada naik mobil mewah kalian mabuk kan susah. Udah ayo kita pergi belanja”
S D 2               : “Hemmhh, ya dech”
S D 1               : “Cap, cup yukkk”
            Wulanpun tidak bisa merebut suling itu kembali. Suatu hari mereka menginginkan suling itu mengeluarkan musik untuk menghibur mereka.
S D 2               : (meniup suling) “Suling butu, hibur kami dengan musik asik ya”
S                      : (mengeluarkan lagu “Ayu Ting Ting: Sik Sik”)
I T                   : “Ahhhh, kurang keras ini lagunya dan suruh suling itu mengeluarkan angin biar terasa segar gerah banget rasanya”
S D 1               : “Suling jelek kerasin volume lagunya dan munculkan angin kencang ya”
            Dan sulingpun mengeluarkan lagu lebih keras di sertai angin yang sangat kencang, sehingga mereka pontang- panting di buatnya dan mereka tidak bisa menghentikan suling itu. Karna lagu itu berputar keras sekali wulanpun melihat apa yang terjadi.
W                    : (kaget) “Ibu, kakak, apa yang terjadi”
I T                   : “Wulan tolong kami”
            Arya, kakek tua dan Pak karta pun muncul melihat apa yang terjadi.
W                    : “Tolong mereka, ini semua gara-gara suling itu”
A                     : “Tidak wulan, biarkan mereka merasakan ulah mereka sendiri”
S D 1               : “Wulan tolong kami”
W                    : “Pak karta tolong mereka”
P K                  : “Biarlah mereka mendapat pelajaran dari semua”
I T                   : “Maafkan kami wulan, tolong kamiii..”
S D 2               : “Kami sungguh- sunguh minta maaf padamu wulan. Tolonglah kami”
            Anginpun berhembuh semakin kencang dan telinga mereka semakin merasa pengeng saja.
W                    : “Kek, tolong mereka. Mereka sudah meminta maaf kepadaku dan aku sudah memaafkan kesalahan mereka”
A                     : “Hatimu sungguh mulia wulan”
K                     : “Kami akan membantumu. Bersiaplah karta..”
P K                  : (menyatukan kekuatan dengan kakek tua) “Bersatu”
            Dan tak lama kemudian berhentilah angin kencang dan suara musik itu.
A                     : “Wulan begitu baik pada kalian. Kalian harus berjanji tidak akan jahat lagi padanya”
IT, SD1 & 2    : (memeluk wulan) “Maafkan kami, selama ini jahat padamu wulan..”
W                    : (tersenyum) “Aku sudah memaafkan kalian kok”
P K                  : “Semua sudah selesai, akan ku simpan suling ini”
A                     : “Daannn... ”
K                     : “Selesailah teater kita kali ini”
A                     : “Keluarga wulan pun hidup bahagia dengan kerukunan”
K                     : “Selesai..”
THE END
           


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Trimakasih Atas Kunjungan Anda




.

MonozCore train-set